Sabtu, 17 Maret 2012

SISTEM PERPIPAAN AIR BERSIH



      Plambing atau sistem perpipaan air minum harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air minum. Perencanaan plambing air minum harus dibuat secara cermat, terutama untuk menghindari terjadinya cross conection, yaitu bercampurnya air bersih dengan air buangan sehingga air tidak memenuhi syarat sebagai air minum. Hal itu dapat terjadi misalnya karena ada kesalahan dalam pemasangan pipa, dsb.
      3 hal yang penting yang perlu dipertimbangkan dalam konsep plambing air minum adalah :
  • Jumlah lantai bangunan
  • Tekanan yang tersedia
  • Besar aliran yang dapat diperoleh

Prinsip Dasar Penyediaan Air Bersih
Kualitas air
Tujuan terpenting dari sistem penyediaan air bersih adalah bagaimana menyediakan air bersih dengan kualitas dan kuantitas yang baik.
Untuk gedung-gedung yang dibangun di daerah yang tidak tersedia fasilitas penyediaan air minum, seperti di tempat terpencil, pegunungan atau di pulau, penyediaan air akan diambil dari sungai, air tanah dangkal atau air tanah dalam dan sebagainya. Walaupun demikian, air baku tersebut tetap harus diolah sampai mencapai standar kualitas yang berlaku. Pengolahan tersebut dapat dilakukan di dalam gedung atau pun dalam instalasi pengolahan air bersih. Banyak negara telah menetapkan standar kualitas air bersih, termasuk Indonesia yang berlaku di Indonesia antara lain:
§  Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 907/MENKESPER/VII/2002 tentang persyaratan kualitas air minum
§  Keputusan menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep-02/MENKLH/I/1988 tentang baku mutu perairan darat, laut dan udara

Pencegahan Pencemaran Air
Pencegahan pencemaran air lebih ditekankan pada sistem penyediaan air dan ini adalah faktor terpenting ditinjau dari segi kesehatan. Hal-hal yang dapat menyebabkan pencemaran air antara lain, masuknya kotoran, binatang-binatang kecil ke dalam tangki, terjadinya karat dan rusaknya bahan tangki dan pipa, terhubungnya pipa air bersih dengan pipa lainnya, tercampurnya air minum dengan air dari jenis kualitas lainnya (kualitas yang lebih rendah). Aliran balik (back flow) air dari jenis kualitas lainnya ke dalam air buangan.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran air bersih adalah:
1.    Larangan hubungan pintas, yaitu hubungan secara langsung antara 2 sistem pipa yang berbeda, 1 sistem pipa untuk air minum dan sistem lainnya untuk pipa yang mana kualitas airnya tidak sama, sehingga air akan dapat mengalir dari satu pipa ke pipa lainnya.
2.    Pencegahan aliran balik (back flow) dapat dilakukan dengan berbagai cara :
a. Menyediakan celah udara, adalah ruang bebas berisi udara bebas, antara bagian terendah dari lubang pipa atau keran yang akan mengisi air ke dalam tangki atau peralatan plambing lainnya, dengan muka air meluap melalui bibir tangki atau peralatan plambing tersebut.
b. Memasang pemecah vakum, terdiri dari dua jenis:
           i.     Pemecah vakum tekanan-atmosfir, dipasang pada alat-alat yang mengalami tekanan hanya apabila ada aliran air.
         ii.     Pemecah vakum tekanan-positif, dipasang pada sisi yang bertekanan air terus-menerus.

Sumber Air Minum
      Sumber air minum untuk suatu bangunan diperoleh dari PDAM, dimana airnya telah diolah. Namun sistem penyediaan air bersih dari PDAM mempunyai tekanan yang terbatas, sehingga umumnya hanya cukup untuk melayani bangunan 1 – 2 lantai. Karena itu, bangunan berlantai banyak harus mempunyai sumber internal, misalnya sumur dalam (deep well).


Sistem Penyediaan Air Bersih
Sistem penyediaan air bersih yang banyak digunakan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Sistem sambungan langsung
Dalam sistem ini pipa distribusi dalam gedung disambung langsung dengan pipa utama penyediaan air bersih. Karena terbatasnya tekanan dalam pipa utama dan dibatasinya ukuran pipa cabang dari pipa utama tersebut, maka sistem ini terutama dapat diterapkan untuk perumahan dan gedung-gedung kecil dan rendah.
2) Sistem tangki atap
 Dalam sistem ini, air ditampung lebih dahulu dalam tangki bawah (dipasang pada lantai terendah bangunan atau di bawah muka tanah), kemudian dipompakan ke suatu tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau di atas lantai tertinggi bangunan. Dari tangki ini air didistribusikan ke seluruh bangunan.
Sistem tangki atap ini diterapkan seringkali karena alasan-alasan berikut:
a) Selama airnya digunakan, perubahan tekanan yang terjadi pada alat plambing hampir tidak berarti. Perubahan tekanan ini hanyalah akibat perubahan muka air dalam tangki atap.
b) Sistem pompa yang menaikkan air ke tangki atap bekerja secara otomatik dengan cara yang sangat sederahana sehingga kecil sekali kemungkinan timbulnya kesulitan.
c) Perawatan tangki atap sangat sederhana dibandingkan dengan misalnya, tangki tekan.

3)   Sistem tangki tekan
Seperti halnya dengan sistem tangki atap, sistem tangki tekan diterapkan dalam keadaan dimana oleh karena suatu alasan tidak dapat digunakan sistem sambungan langsung.
Kelebihan-kelebihan sistem tangki tekan antara lain:
a.    Lebih menguntungkan dari segi estetika karena tidak terlalu menyolok dibanding dengan tangki atap
b.    Mudah perawatannya karena dipasang dalam ruang mesin bersama pompa-pompa lainnya
c.    Harga awal lebih rendah dibandingkan dengan tangki yang harus dipasang di atas menara.
Kekurangan-kekurangannya:
a.    Daerah fluktuasi tekanan sebesar 1.0 kg/cm² sangat besar dibandingkan dengan sistem tangki atap yang hampir tidak ada fluktuasi tekanannya.
b.    Dengan berkurangnya udara dalam tangki tekan, maka setiap beberapa hari sekali harus ditambahkan udara kempa dengan kompresor atau dengan menguras seluruh air dari dalam tangki tekan.
c.    Sistem tangki tekan dapat dianggap sebagai suatu sistem pengaturan otomatis pompa penyediaan air saja dan bukan sebagai sistem penyimpanan air seperti tangki atap.
d.    Karena jumlah air yang efektif tersimpan dalam tangki tekan relatif sedikit, maka pompa akan lebih sering bekerja dan hal ini dapat menyebabkan keausan pada saklar pompa lebih cepat.
4)   Sistem tanpa tangki
Dalam sistem ini tidak digunakan tangki apapun, baik tangki bawah, tangki tekan, atau pun atap. Atap dipompakan langsung ke sistem distribusi bangunan dan pompa menghisap air langsung dari pipa utama.

Laju Aliran Air
Dalam perancangan sistem penyediaan air untuk sesuatu bangunan, kapasitas peralatan dan ukuran pipa-pipa didasarkan pada jumlah dan laju aliran air yang harus disediakan kepada bangunan tersebut.

 Tekanan air dan kecepatan aliran
Tekanan air yang kurang mencukupi akan menimbulkan kesulitan dalam pemakaian air. Tekanan yang berlebihan dapat menimbulkan rasa sakit terkena pancaran air serta mempercepat kerusakan peralatan plambing, dan menambah kemungkinan timbulnya pukulan air.
Kecepatan aliran air yang terlampau tinggi akan dapat menambah kemungkinan timbulnya pukulan air, dan menimbulkan suara berisik dan kadang-kadang menyebabkan ausnya permukaan dalam dari pipa. Di lain pihak, kecepatan yang terlampau rendah ternyata dapat menimbulkan efek kurang baik dari segi korosi, pengendapan kotoran, ataupun kualitas air. Biasanya digunakan standar kecepatan sebesar 0.9-1.2 m/detik, batas maksimal berkisar antara 1,5-2m/detik.

Dasar Perhitungan
Untuk dapat menentukan banyaknya alat plambing dan kebutuhan air yang diperlukan dalam suatu gedung/banguan, harus diketahui jumlah populasi pengguna gedung tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah pengguna gedung adalah dengan mengetahui fungsi dan luas tiap ruang dalam gedung.
Kebutuhan air didapat dari jumlah pengguna sesuai fungsi ruang. Kebutuhan air selanjutnya diperlukan untuk menghitung volume tangki bawah, atas dan pompa.

PERANCANGAN SISTEM PIPA AIR DINGIN 
Sistem pipa
Pada dasarnya ada dua sistem pipa penyediaan air dalam gedung, yaitu sistem pengaliran ke atas dan sistem pengaliran ke bawah.
§    Dalam sistem pengaliran ke atas, pipa utama dipasang dari tangki atas ke bawah sampai langit-langit lantai terbawah dari gedung, kemudian mendatar dan bercabang-cabang tegak ke atas untuk melayani lantai-lantai di atasnya.     
§    Dalam sistem pengaliran ke bawah, pipa utama dari tangki atas dipasang mendatar dalam langit-langit lantai teratas dari gedung, dan dari pipa mendatar ini dibuat cabang-cabang tegak ke bawah untuk melayani lantai-lantai di bawahnya.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan sistem pipa:
a.    Pipa harus dirancang dan dipasang sedemikian rupa sehingga udara maupun air kalau perlu dapat dibuang/dikeluarkan dengan mudah.
b.    Pipa mendatar pada sistem pengaliran ke atas sebaiknya dibuat agak miring keatas, sedang pada sistem pengaliran ke bawah dibuat agak miring ke bawah.
c.    Perpipaan yang tidak merata, melengkung ke atas atau melengkung ke bawah harus dihindarkan. Kalau tidak dapat dihindarkan hendaknya dipasang katup pelepas udara.
d.    Harus dihindarkan membalikkan arah aliran.

Pemasangan katup
Pada pipa-pipa cabang sedekat mungkin dengan pipa utama dipasang katup-katup pemisah agar kalau perlu dilakukan perawatan/perbaikan pada cabang tersebut, maka tidak perlu instalasi seluruh gedung dimatikan.

Penaksiran laju aliran air
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menaksir besarnya laju aliran air,diantaranya, yaitu:
a) Berdasarkan jumlah pemakai
Metode ini didasarkan pada pemakaian air rata-rata sehari dari setiap penghuni dan perkiraan jumlah penghuni. Metode ini praktis untuk tahap perencanaan atau juga perancangan. Angka pemakaian air yang diperoleh dengan metoda ini digunakan untuk menetapkan volume tangki bawah, tangki atap, pompa, dsb.
b) Berdasarkan jenis dan jumlah alat plumbing
Metode ini digunakan apabila kondisi pemakaian alat plambing dapat diketahui misalnya untuk perumahan atau gedung kecil. Juga harus diketahui pula jumlah dari setiap jenis alat plambing dalam gedung tersebut.
c) Berdasarkan unit beban alat plambing
Dalam metode ini untuk setiap alat plambing ditetapkan suatu unit beban (fixture unit). Untuk setiap bagian pipa dijumlahkan besarnya unit beban dari semua alat plambing yang dilayaninya, dan kemudian dicari besarnya laju aliran air dengan kurva yang menghubungkan antara unit beban alat plambing dengan laju aliran.
d) Berdasarkan pemakaian air terhadap waktu

Penentuan ukuran pipa
Ukuran pipa ditentukan berdasarkan laju aliran puncak. Disamping itu ada tambahan pertimbangan-pertimbangan lain yang didasarkan pada pengalaman perancang/kontraktor pelaksana.

Peralatan Penyediaan air 
Jenis peralatan penyediaan air:
1.    Tangki air
a. Tangki air bawah tanah
    Air dari jaringan air minum kota dialirkan dan ditampung dalam tangki bawah tanah dan kemudian dipompa ke dalam jaringan pipa penyediaan air gedung.
b. Tangki atap
 Tangki ini mendapat air dari pompa yang menyedot dari tangki bawah tanah. Tangki ini berfungsi untuk menyimpan air untuk kebutuhan singkat dan untuk menstabilkan tekanan air sehubungan dengan fluktuasi pemakaian air sehari-hari.
c.  Tangki tekan
Tangki semacam ini berfungsi untuk menyimpan air dengan tekanan tinggi.

2.    Pompa penyediaan air
Pengelompokkan jenis pompa pada garis besarnya ada tiga, yaitu:
§  Jenis putar, ada yang sentrifugal, aliran campuran, aksial dan generatif.
§  Jenis langkah positif, yang termasuk jenis ini adalah pompa torak, pompa sudu, pompa eksentrik.
Jenis khusus, adalah pompa vorteks, gelembung uap, pompa jet.

1 komentar: